Terapi Sholat Bahagia
Oleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
Trainer “ Terapi Sholat Bahagia”
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Moh. Ali
Aziz, M. Ag yang berisi manual sederhana menuju kebahagiaan melalui shalat
telah beredar dan menjadi bacaan publik. Akan tetapi, untuk pemahaman dan
penghayatan yang lebih maksimal dibutuhkan kegiatan Pendalaman Terapi Shalat
Bahagia (PTSB) dengan pencerahan dan bimbingan praktek dari penulis / founder
dan atau timnya.
Pendalaman
Terapi Shalat Bahagia (PTSB) yang pernah diadakan antara lain:
1.
PTSB di Teheran Iran
2.
PTSB Masjid Wanchai Hong Kong
3.
PTSB Grand Mosque Taipei (28-10-12)
4.
PTSB Masjid Besar Taichung
5.
PTSB Mushalla FKPIT Yilan Taiwan
6.
PTSB Detention Centre (Penjara) Yilan Taiwan (29-10-12)
7.
PTSB Bappeprov Jatim
8.
PTSB Dokter/Karyawan RSI Jemursari (Des 2012)
9.
PTSB Dokter/karyawan/umum RS Haji Surabaya
10.
PTSB Lembaga -lembaga Sosial KhadijahOleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Shalat secara bahasa bermakna doa, sedangkan secara istilah,
sahalat merupakan suatu ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan
yang diawali dengan takbirotul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan
persyaratan tertentu. Menurut hakekatnya, shalat ialah menghadapkan jiwa kepada
Allah SWT, yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah & bisa
membangkitkan kesadaran yang dalam pada setiap jiwa terhadap kebesaran dan
kekuasaan Allah SWT. Tujuan dari shalat adalah menahan diri dan mencegah diri
dari perbuatan tercelah.
Terapi Shalat Bahagia dilengkapi dengan merenungi poin-poin
di setiap gerakannya. Kemudian, shalat bahagia ini dianjurkan untuk shalat yang
dilakukan sendirian, tidak untuk berjamaah. Terapi sholat bahagia diterapkan
agar kualitas sholat kita lebih meningkat dan lebih khusyu’. Dan sekarang ini
masih banyak orang yang resah gelisah karena merasa kurang bahagia, maka
penerapan sholat bahagia ini menjadi salah satu alternatif. Dan sholat juga
bisa membantu kita untuk menyelesaikan masalah. Berangkat dari sana maka tujuan
dari adanya terapi shalat bahagia ini, agar kita sadar bahwa selama ini
kualitas shalat kita masih kurang. Tak perlu jauh untuk memahami satu-satu
bacaan kita, untuk jelas dan sadar dalam membaca ayat demi ayat aja terkadang
kita teledor. Kemudian kita belum sadar bahwa shalat adalah sebuah alat, alat
yang dapat kita gunakan untuk meraih kebahagian, namun karena kita belum
mengerti bagaimana cara yang baik dalam menggunakanalat itu maka fungsi alat tersebut berkurang, bahkan
tidak ada. Dengan hadirnya terapi shalat ini, maka tujuannya adalah agar kita
sadar dan dapat meraih kebahagiaan melalui shalat yang selama ini kita lakukan.
Proses atau langkah-langkah Terapi Shalat Bahagia
Pertama, berdiri. mengawali takbir, kemudian kita membaca surat
Al-Fatihah, bacaan yang wajib dibaca dan jika tak dibaca maka gugurlah shalat
seseorang. Sebelum membaca Al-Fatihah alangkah baiknya jika kita awali dengan
membaca doa iftitah, sebab kita perlu membersihkan diri dari dosa sebelum membaca
doa-doa shalat selanjutnya. Setelah selesai membaca doa iftitah kita mulai
membaca surat Al-Fatihah dengan mengawali ta’awwudz pembuka surat, kemudian
basmalah yang menjadi salah satu ayat dalam Al-fatihah. Surat Al-Fatihah
terdiri dari 7 Ayat, turun di Makkah, olehnya disebut surat makkiyah. Adapun
arti ayat-ayat dalam surat Al- Fatihah adalah sebagai berikut; (1) Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (2) Segala puji
bagi Allah, Tuhan semesta alam. (3) Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (4) Yang
menguasai hari pembalasan. (5) Hanya kepada
Engkaulah
kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (6)
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan pula (jalan) orang yang sesat. Al-Fatihah mengandung tiga poin penting
yang harus direnungkan dan diamalkan ketika membacanya. Ketiga poin ini di
dalam buku Profesor Ali Aziz dikupas dengan mengambil intisari dalam surat
Al-Fatihah, yaitu:
a.
Syukur kepada Allah SWT Selama jantung berdetak selama itu pula nikmat Allah
SWT, mengalir. Setiap detik Allah SWT sibuk mengurus hamba-Nya, maka seharusnya
setiap detik seorang hamba wajib mengingat dan mensyukuri nikamt-Nya. Dalam
posisi beridir ini, sebagai seorang hamba, ingatlah semua nikmat itu dan
syukrurilah. Sebutkan satu per satu nikmat besar Allah yang telah Anda terima.
Menunduklah untuk berterima kasih kepada-Nya. Bimbingan Allah SWT.
b.
Bimbingan Allah SWT Kita memohon bimbingan agar tetap berada di jalan yang
lurus (shirothal mustaqim). Kita membutuhkan petunjuk (hidayah) Allah, sebab
kita tidak bisa menemukan kebenaran dengan akal semata.
c.
Ketahanan Iman, Iman seorang manusia selalu naik turun. Kita memohon ketahanan
iman agar menjadi hamba yang dirahmati-Nya. Setiap detik setan membolak balik
seorang dari jalan yang benar dan tidak akan berhenti sampai seorang hamba
sampai mendapatkan murka Allah atau bahkan menjadi orang yang sesat.
Ketiga
point tersebut disingkat dengan SUBHAN (Syukur, Bimbingan, dan Ketahan Iman).
Kedua, rukuk. Pada posisi ini umat muslim membungkukkan jiwa dan
raga untuk menyatakan hormat terhadap perintah dan kebesaran Allah dan
kesediaan untuk “dipenggel lehernya” di jalan Allah (tunduk pada kehendak Allah
dan menurut kepada semua perintah Allah). Poin yang ada di dalam rukuk hanya
dua, yakni Tunduk dan Menurut.
1)
Tunduk Kepada Allah SWT, Kita tunduk dan menerima semua yang diputuskan kepada
kita dengan ridha dan senang hati. Dalam posisi ini, kita sedang membungkuk
dengan perasaan hina, kecil, dan bodoh di hadapan Allah SWT.
2)
Menurut sepenuhnya kepada perintah Allah, Kita berikrar untuk menurut dan
sekaligus memohon ampunan atas ketidaktaatan yang pernah dilakukan.
Kedua
point tersebut disingkat dengan TURUT (Tunduk dan Menurut).
Ketiga, Gerakan selanjutnya setelah rukuk
adalah berdiri tegak (i’tidal) dengan mengucapkan sami’allahu liman hamidah
(Allah Maha Mendengar orang yang memujinya).
a.
Hak Pujian. Segala puji hanya untuk Allah, Yang Maha Kuasa, Maha Menguasai
langit, bumi, dan semua isinya. Dia-lah yang berhak dipuji, tidak boleh kita
memuji selain Dia, melebihi kita memuji- Nya. Dan kita tak boleh mengharapkan
pujian dari orang lain, dalam pekerjaan apapun yang kita lakukan. Yang paling
berhak untuk dipuji hanya Allah semata, maka semua ibadah yang kita lakukan
harus dilandaskan atas dasara keihlasan dan hanya mengharap ke-ridhaan-Nya.
Mengharap pujian selain kepada- Nya, di samping merusak keimanan, juga menjadi
sumber kegelisahan di kemudian hari.
b.
Takdir Allah. Tidak ada yang di dunia ini kecuali dengan kehendak-Nya. Jika Ia
berkehendak tak ada satupun makhluk yang bisa menghalangi. Maka apapun
keputusan yang ditentukan, kita mesti menerimanya. Karena keputusan baik
ataupun buruk adalah keputusan dari-Nya.
Kedua
point tersebut disingkat dengan HADIR (Hak pujian dan Takdir Allah).
Keempat, sujud. Adalah posisi paling agung dalam shalat setelah
rukuk. Dengan sujud, seorang muslim menunjukkan kehinaan di hadapan Allah SWT,
mengingat diri akan empat tahap perjalanan menuju Allah. Dalam sujud, seorang
hamba membaca tahmid dan tasbih. Ini berarti dalam beribadah penyucian harus
didahulukan daripada pemujian. Ada tiga pokok penting yang harus dihayati
ketika sujud (maaf, sinar Allah serta jiwa dan raga).
1)
Maaf, seorang muslim memohon maaf atau ampunan Allah atas semua dosa-dosa yang
telah diperbuat, dosa diri sendiri, keluarga dan kedua orang tua.
2)
Sinar Allah SWT, memohon sinar Allah SWT, untuk hati, mata, telinga, lisan dan
semua anggota badan, agar agar kita bisa menjalankan semua perintah Allah dan
meningalkan larangan-Nya dengan mudah.
3)
Jiwa dan Raga, sadar bahwasanya sepenuhya jiwa dan raga ada di dalam genggaman
Allah SWT. Dengan kekuasaan-Nya, Allah SWT, bisa melakukan apa saja terhadap
diri kita. Oleh sebab itu, kita pasrahkan sepenuhnya jiwa dan raga, hidup-mati,
sehat-sakit, kaya miskin. Dan semua persolalan kepada Allah SWT. Seorang hamba
berikhtiar dengan maksimal apa yang menjadi keinginannya, sedangkan hasilnya
diserahkan kepada Allah SWT.
Ketiga
point di atas disingkat dengan MASJID (Maaf, Sinar, dan Jiwa dan Raga).
Kelima, Duduk Antara Dua Sujud, dari segi
isinya doa dalam posisi ini adalah yang paling lengkap, mencakup kebutuhan
dunia dan akhirat yaitu ampunan, kasih sayang, kesejahteraan, dan keimanan.
Berdasarkan beberapa doa dalam posisi ini, ada empat permohonan penting kepada
Allah, yaitu:
a.
Ampunan, yaitu ampunan Allah atas semua dosa. Hampir tidak ada hari kita lewati
tanpa dosa. Tanpa ampunan Allah SWT, seorang muslim menjadi manusia paling
sengsara di akhirat.
b.
Kasih sayang, yaitu kasih sayang (rahmat) Allah SWT. Ampunan Allah SWT, selalu
berkaitan dengan kasih-Nya. Keduanya menjadi penentu masa depan dunia dan
akhirat.
c.
Sejahtera, yaitu terpenuhinya kebutuhan hidup (jasmani dan rohani).
d.
Iman, yaitu keimananyang kokoh dan petunjuk godaan duniawi yang semakin
beragam. Seorang muslim sangat membutuhkan penguatan iman dan limpahan hidayah
dari Allah.
Keempat
poin di atas disingkat dengan AKSI (Ampunan, Kasih sayang, Sejahtera, dan
Iman).
Keenam, tasyahud. Posisi duduk ini disebut sebagai tasyahud karena
didalamnya ada bacaan syahadat sebagai ikrar keimanan “tiada Tuhan selain Allah
dan Nabi Muhammad utusan Allah SWT.” Dengan keimanan yang benar, orang berimann
akan menjalankan perintah Allah bukan sebagai beban tapi sebuah kebutuhan,
menerima apapun takdir Allah SWT SWT, dengan ikhlas, ridha dan senang hati,
serta bertawakkal kepada Allah SWT. Ada tiga pokok penting yang harus dihayati
ketika tasyahud adalah :
1.
Shalawat. Shalawat dan salam diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai
ungkapan terima kasih atas jasa Nabi Muhammad SAW, yang mengenalkan Allah
kepada umatnya dan membimbing cara beribadah kepada-Nya.
2.
Persaksian Bersaksi atau berikrar “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad
utusan Allah”, memohon kepada Allah agar tetap menjalankan perintah Allah dan
Rasul-Nya sepanjang hidup dan mati dengan keimanan yang sempurna.
3.
Tawakkal. Menyerahkan sepenuhnya apapun hasil yang diberikan Allah SWT, setelah
ikhtiar yang maksimal. Memasrahkan juga hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin,
dan semua persoalan kepada Allah SWT.
Ketiga
point tersebut disingkat dengan SOSIAL (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal).