Senin, 02 Desember 2019


Terapi Sholat Bahagia

Oleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
Trainer “ Terapi Sholat Bahagia”


Assalamualaikum, Wr. Wb.

Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Moh. Ali Aziz, M. Ag yang berisi manual sederhana menuju kebahagiaan melalui shalat telah beredar dan menjadi bacaan publik. Akan tetapi, untuk pemahaman dan penghayatan yang lebih maksimal dibutuhkan kegiatan Pendalaman Terapi Shalat Bahagia (PTSB) dengan pencerahan dan bimbingan  praktek dari penulis / founder dan atau timnya.
Pendalaman Terapi Shalat Bahagia (PTSB) yang pernah diadakan antara lain:
1.     PTSB di Teheran Iran
2.     PTSB Masjid Wanchai Hong Kong
3.     PTSB Grand Mosque Taipei (28-10-12)
4.     PTSB Masjid Besar Taichung
5.     PTSB Mushalla FKPIT Yilan Taiwan
6.     PTSB Detention Centre (Penjara) Yilan Taiwan (29-10-12)
7.     PTSB Bappeprov Jatim
8.     PTSB Dokter/Karyawan RSI Jemursari (Des 2012)
9.     PTSB Dokter/karyawan/umum RS Haji Surabaya
10. PTSB Lembaga -lembaga Sosial KhadijahOleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Shalat secara bahasa bermakna doa, sedangkan secara istilah, sahalat merupakan suatu ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbirotul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan persyaratan tertentu. Menurut hakekatnya, shalat ialah menghadapkan jiwa kepada Allah SWT, yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah & bisa membangkitkan kesadaran yang dalam pada setiap jiwa terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Tujuan dari shalat adalah menahan diri dan mencegah diri dari perbuatan tercelah.
Terapi Shalat Bahagia dilengkapi dengan merenungi poin-poin di setiap gerakannya. Kemudian, shalat bahagia ini dianjurkan untuk shalat yang dilakukan sendirian, tidak untuk berjamaah. Terapi sholat bahagia diterapkan agar kualitas sholat kita lebih meningkat dan lebih khusyu’. Dan sekarang ini masih banyak orang yang resah gelisah karena merasa kurang bahagia, maka penerapan sholat bahagia ini menjadi salah satu alternatif. Dan sholat juga bisa membantu kita untuk menyelesaikan masalah. Berangkat dari sana maka tujuan dari adanya terapi shalat bahagia ini, agar kita sadar bahwa selama ini kualitas shalat kita masih kurang. Tak perlu jauh untuk memahami satu-satu bacaan kita, untuk jelas dan sadar dalam membaca ayat demi ayat aja terkadang kita teledor. Kemudian kita belum sadar bahwa shalat adalah sebuah alat, alat yang dapat kita gunakan untuk meraih kebahagian, namun karena kita belum mengerti bagaimana cara yang baik dalam menggunakanalat  itu maka fungsi alat tersebut berkurang, bahkan tidak ada. Dengan hadirnya terapi shalat ini, maka tujuannya adalah agar kita sadar dan dapat meraih kebahagiaan melalui shalat yang selama ini kita lakukan. Proses atau langkah-langkah Terapi Shalat Bahagia
 Pertama, berdiri. mengawali takbir, kemudian kita membaca surat Al-Fatihah, bacaan yang wajib dibaca dan jika tak dibaca maka gugurlah shalat seseorang. Sebelum membaca Al-Fatihah alangkah baiknya jika kita awali dengan membaca doa iftitah, sebab kita perlu membersihkan diri dari dosa sebelum membaca doa-doa shalat selanjutnya. Setelah selesai membaca doa iftitah kita mulai membaca surat Al-Fatihah dengan mengawali ta’awwudz pembuka surat, kemudian basmalah yang menjadi salah satu ayat dalam Al-fatihah. Surat Al-Fatihah terdiri dari 7 Ayat, turun di Makkah, olehnya disebut surat makkiyah. Adapun arti ayat-ayat dalam surat Al- Fatihah adalah sebagai berikut; (1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (3) Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (4) Yang menguasai hari pembalasan. (5) Hanya kepada
Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) orang yang sesat. Al-Fatihah mengandung tiga poin penting yang harus direnungkan dan diamalkan ketika membacanya. Ketiga poin ini di dalam buku Profesor Ali Aziz dikupas dengan mengambil intisari dalam surat Al-Fatihah, yaitu:
a. Syukur kepada Allah SWT Selama jantung berdetak selama itu pula nikmat Allah SWT, mengalir. Setiap detik Allah SWT sibuk mengurus hamba-Nya, maka seharusnya setiap detik seorang hamba wajib mengingat dan mensyukuri nikamt-Nya. Dalam posisi beridir ini, sebagai seorang hamba, ingatlah semua nikmat itu dan syukrurilah. Sebutkan satu per satu nikmat besar Allah yang telah Anda terima. Menunduklah untuk berterima kasih kepada-Nya. Bimbingan Allah SWT.
b. Bimbingan Allah SWT Kita memohon bimbingan agar tetap berada di jalan yang lurus (shirothal mustaqim). Kita membutuhkan petunjuk (hidayah) Allah, sebab kita tidak bisa menemukan kebenaran dengan akal semata.
c. Ketahanan Iman, Iman seorang manusia selalu naik turun. Kita memohon ketahanan iman agar menjadi hamba yang dirahmati-Nya. Setiap detik setan membolak balik seorang dari jalan yang benar dan tidak akan berhenti sampai seorang hamba sampai mendapatkan murka Allah atau bahkan menjadi orang yang sesat.
Ketiga point tersebut disingkat dengan SUBHAN (Syukur, Bimbingan, dan Ketahan Iman).
            Kedua, rukuk. Pada posisi ini umat muslim membungkukkan jiwa dan raga untuk menyatakan hormat terhadap perintah dan kebesaran Allah dan kesediaan untuk “dipenggel lehernya” di jalan Allah (tunduk pada kehendak Allah dan menurut kepada semua perintah Allah). Poin yang ada di dalam rukuk hanya dua, yakni Tunduk dan Menurut.
1) Tunduk Kepada Allah SWT, Kita tunduk dan menerima semua yang diputuskan kepada kita dengan ridha dan senang hati. Dalam posisi ini, kita sedang membungkuk dengan perasaan hina, kecil, dan bodoh di hadapan Allah SWT.
2) Menurut sepenuhnya kepada perintah Allah, Kita berikrar untuk menurut dan sekaligus memohon ampunan atas ketidaktaatan yang pernah dilakukan.
Kedua point tersebut disingkat dengan TURUT (Tunduk dan Menurut).
            Ketiga, Gerakan selanjutnya setelah rukuk adalah berdiri tegak (i’tidal) dengan mengucapkan sami’allahu liman hamidah (Allah Maha Mendengar orang yang memujinya).
a. Hak Pujian. Segala puji hanya untuk Allah, Yang Maha Kuasa, Maha Menguasai langit, bumi, dan semua isinya. Dia-lah yang berhak dipuji, tidak boleh kita memuji selain Dia, melebihi kita memuji- Nya. Dan kita tak boleh mengharapkan pujian dari orang lain, dalam pekerjaan apapun yang kita lakukan. Yang paling berhak untuk dipuji hanya Allah semata, maka semua ibadah yang kita lakukan harus dilandaskan atas dasara keihlasan dan hanya mengharap ke-ridhaan-Nya. Mengharap pujian selain kepada- Nya, di samping merusak keimanan, juga menjadi sumber kegelisahan di kemudian hari.
b. Takdir Allah. Tidak ada yang di dunia ini kecuali dengan kehendak-Nya. Jika Ia berkehendak tak ada satupun makhluk yang bisa menghalangi. Maka apapun keputusan yang ditentukan, kita mesti menerimanya. Karena keputusan baik ataupun buruk adalah keputusan dari-Nya.
Kedua point tersebut disingkat dengan HADIR (Hak pujian dan Takdir Allah).
            Keempat, sujud. Adalah posisi paling agung dalam shalat setelah rukuk. Dengan sujud, seorang muslim menunjukkan kehinaan di hadapan Allah SWT, mengingat diri akan empat tahap perjalanan menuju Allah. Dalam sujud, seorang hamba membaca tahmid dan tasbih. Ini berarti dalam beribadah penyucian harus didahulukan daripada pemujian. Ada tiga pokok penting yang harus dihayati ketika sujud (maaf, sinar Allah serta jiwa dan raga).
1) Maaf, seorang muslim memohon maaf atau ampunan Allah atas semua dosa-dosa yang telah diperbuat, dosa diri sendiri, keluarga dan kedua orang tua.
2) Sinar Allah SWT, memohon sinar Allah SWT, untuk hati, mata, telinga, lisan dan semua anggota badan, agar agar kita bisa menjalankan semua perintah Allah dan meningalkan larangan-Nya dengan mudah.
3) Jiwa dan Raga, sadar bahwasanya sepenuhya jiwa dan raga ada di dalam genggaman Allah SWT. Dengan kekuasaan-Nya, Allah SWT, bisa melakukan apa saja terhadap diri kita. Oleh sebab itu, kita pasrahkan sepenuhnya jiwa dan raga, hidup-mati, sehat-sakit, kaya miskin. Dan semua persolalan kepada Allah SWT. Seorang hamba berikhtiar dengan maksimal apa yang menjadi keinginannya, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.
Ketiga point di atas disingkat dengan MASJID (Maaf, Sinar, dan Jiwa dan Raga).
            Kelima, Duduk Antara Dua Sujud, dari segi isinya doa dalam posisi ini adalah yang paling lengkap, mencakup kebutuhan dunia dan akhirat yaitu ampunan, kasih sayang, kesejahteraan, dan keimanan. Berdasarkan beberapa doa dalam posisi ini, ada empat permohonan penting kepada Allah, yaitu:
a. Ampunan, yaitu ampunan Allah atas semua dosa. Hampir tidak ada hari kita lewati tanpa dosa. Tanpa ampunan Allah SWT, seorang muslim menjadi manusia paling sengsara di akhirat.
b. Kasih sayang, yaitu kasih sayang (rahmat) Allah SWT. Ampunan Allah SWT, selalu berkaitan dengan kasih-Nya. Keduanya menjadi penentu masa depan dunia dan akhirat.
c. Sejahtera, yaitu terpenuhinya kebutuhan hidup (jasmani dan rohani).
d. Iman, yaitu keimananyang kokoh dan petunjuk godaan duniawi yang semakin beragam. Seorang muslim sangat membutuhkan penguatan iman dan limpahan hidayah dari Allah.
Keempat poin di atas disingkat dengan AKSI (Ampunan, Kasih sayang, Sejahtera, dan Iman).
            Keenam, tasyahud. Posisi duduk ini disebut sebagai tasyahud karena didalamnya ada bacaan syahadat sebagai ikrar keimanan “tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah SWT.” Dengan keimanan yang benar, orang berimann akan menjalankan perintah Allah bukan sebagai beban tapi sebuah kebutuhan, menerima apapun takdir Allah SWT SWT, dengan ikhlas, ridha dan senang hati, serta bertawakkal kepada Allah SWT. Ada tiga pokok penting yang harus dihayati ketika tasyahud adalah :
1. Shalawat. Shalawat dan salam diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai ungkapan terima kasih atas jasa Nabi Muhammad SAW, yang mengenalkan Allah kepada umatnya dan membimbing cara beribadah kepada-Nya.
2. Persaksian Bersaksi atau berikrar “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”, memohon kepada Allah agar tetap menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya sepanjang hidup dan mati dengan keimanan yang sempurna.
3. Tawakkal. Menyerahkan sepenuhnya apapun hasil yang diberikan Allah SWT, setelah ikhtiar yang maksimal. Memasrahkan juga hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin, dan semua persoalan kepada Allah SWT.
Ketiga point tersebut disingkat dengan SOSIAL (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal).